Review Artikel Jurnal: Approaches To Truancy Prevention (2002)

February 16, 2007

 

           Mogulescu, S., Segal, H.J., 2002. Approaches To Truancy Prevention. Vera Institute of Justice, 1-14

 

Reviewed by: Asri Prahesti

Setiap hari, di Amerika Serikat ratusan dari ribuan remaja absen dari sekolah tanpa ijin dan alasan yang jelas. Di negara ini, membolos adalah masalah yang mulai meresahkan. Karena menurut beberapa penelitian, perilaku membolos sangat dipercaya sebagai prediktor munculnya perilaku delinkuen pada remaja (studi mencatat 75-85% pelaku kenakalan remaja adalah remaja yang suka membolos atau sangat sering absen dari sekolah). Di AS, siswa yang membolos disebut sebagai Person in Need of Supervision (PINS) atau orang yang membutuhkan pengawasan.

 

Telah banyak dilakukan usaha-usaha dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk mencegah dan mengurangi perilaku membolos pada siswa ini. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Youth Justice Program, ditemukan tiga kategori pelaksanaan pencegahan dan intervensi terhadap perilaku membolos siswa:

  1. Program Pencegahan Dini (biasanya ditemukan pada tingkat sekolah dasar)

  2. Program yang dirancang untuk membantu siswa yang membolos yang telah dikirimkan oleh sekolah kepada lingkungan keluarga dengan status sebagai pelaku delinkuen

  3. Program yang dirancang untuk mengarahkan siswa yang membolos atau siswa yang beresiko untuk melakukan perilaku membolos

 

Truancy Prevention Through Mediation Program in Ohio (TPTMPO)

Program ini adalah program pencegahan terhadap munculnya perilaku membolos pada siswa. Pada hari pertama masuk sekolah,siswa siswa di Ohio diberikan surat yang harus diserahkan kepada orangtua mereka yang menjelaskan bahwa sekolah sangat memperdulikan kehadiran siswa di sekolah. Jika setelah dua atau tiga kali ketidakhadiran tanpa ijin, sekolah akan mengirimkan surat peringatan lagi kepada orangtua yang menginformasikan berapa hari siswa tidak masuk dan menginformasikan ke orangtua bahwa sekolah memonitoring masalah tersebut. Jika absen terus berlanjut dan terakumulasi hingga mencapai titik tertinggi (sesuai kesepakatan komunitas sekolah) pihak sekolah akan mengundang orangtua siswa tersebut untuk ikut serta dalam sesi mediasi bersama pihak sekolah. Mediator biasanya berasal dari sekolah (kepala sekolah), pekerja sosial, atau perwakilan dari dinas sosial. Mediasi ini biasanya bisa berlangsung sampai dua sesi, apabila tidak ditemukan jalan keluar, maka kasus bisa ditangani secara hukum.

 

Broward Truancy Intervention Program (BTIP)

Di Broward, Florida, intervensi untuk penanganan masalah membolos pada siswa ini telah menggunakan model dengan komputerisasi. Setelah tiga kali ketidakhadiran tanpa ijin, sistem komputer sentral di sekolah akan mengirimkan secara langsung surat pemberitahuan kepada orangtua siswa melalui email orangtua siswa tersebut. Surat tersebut secara elektronik dikirim oleh sekolah dan ditandatangani oleh kepala sekolah. Setelah lima kali ketidakhadiran tanpa ijin, surat bersertifikasi dari pihak pemerintahan (seperti dinas sosial) dikirimkan pada orangtua. Pihak dinas sosial kemudian mencatat nama-nama siswa yang bermasalah tersebut, dan mencari informasi yang lebih detail tentang data siswa tersebut beserta alamatnya. Dan setelah sepuluh kali ketidakhadiran tanpa ijin, koordinator pelayanan siswa akan mengatur pertemuan antara orangtua murid, pihak sekolah, pekerja sosial, perwakilan dari dinas sosial, dan pihak kepolisian. Dalam pertemuan ini, siswa tidak diikutsertakan. Melalui pertemuan itu, orangtua murid diinformasikan konsekuensi yang akan muncul dari perilaku membolos siswa yang terus menerus itu dan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan muncul pada anak maupun keluarga.

 

Truancy Intervention Program in Minnesota (TIPM)

TIP dirancang berdasarkan tiga level. Pertama, untuk siswa yang telah tiga kali atau lebih absen, sekolah dapat merujuk siswa dan keluarganya untuk bergabung dengan pertemuan tentang pemberian informasi dalam kelompok besar di sekolah. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memberikan informasi tentang esensi hukum dari ketidakhadiran di sekolah, tujuan dari program TIP, dan konsekuensi legal dari perilaku membolos yang kronis. Siswa yang gagal meningkatkan frekuensi kehadiran mereka di sekolah akan dirujuk untuk mengikuti SART (School Attendance Review Team). SART akan mendengarkan permasalahan mereka, kemudian bersama dengan orang tua, dinas sosial, konselor atau pekerja sosial, pengacara, dan siswa sendiri merancang kontrak kehadiran di sekolah. Apabila ketidakhadiran siswa tetap tidak meningkat, maka langkah selanjutnya dari TIP adalah siswa mengisi petisi membolos di penadilan remaja.

Program yang berjalan 1995 ini, pada akhir tahun ajaran 2000-2001 telah menurunkan jumlah petisi yang diisi sebanyak 47%, kehadiran siswa di sekolah meningkat sebanyak 82%, dan jumlah siswa yang membolos sampai lebih dari 15 hari berkurang dari 73% ke 42% pada kelas 9 sampai kelas 12.

 

Truancy Intervention Program in California (TIPC)

TIP di California ini adalah kolaborasi antara departemen pelayanan manusia (department of human service), kepolisian, dan sekolah-sekolah untuk mengurangi perilaku membolos. TIP ini konsepnya sedikit lebih maju dengan melibatkan komponen konseling. The Youth and Family Services Office (YFS) sebuah agensi konseling yang berada dibawah supervisi department of human services, menaungi dan mengatur program TIP ini. Biasanya TIP menerim siswa yang membolos dari polisi, yang melakukan razia pada siswa yang terlihat berkumpul dengan komunitas tertentu pada jam sekolah. Bisa juga dilakukan pengecekan terhadap ketidakhadiran siswa dari sekolah, dan kemudian delegasi dari sekolah (School Resource Officer/SRO) mengunjungi rumah siswa tersebut dan membawanya ke klinik. Di klinik petugas klinik atau SRO mengisi blangko penangkaan dan menghubungi orang tua siswa. Selama menunggu kedatangan orangtua, konselor (yang berlisensi terapis perkawinan dn keluarga atau psikolog klinis) berbicara pada siswa untuk menemukan penyebab yang mendasari dilakukannya perilaku membolos tersebut. Ketika orang tua tiba, sesi asesmen dan intervensi dilakukan. Orang tua diinfomasikaan tentang hukum dari perilaku membolos, dan konselor memimpin diskusi untum mengeksplor beberapa permasalahan yang bisa menjadi dasar penyebab siswa membolos. Berdasarkan hasil asesmen, sebuah kontrak verbal dibuat dan selama masa kontrak, konselor berhubungan secara rutin dengan pihak sekolah untuk memonitor kemajuan yang dilakukan siswa. Jika tidak terjadi kemajuan (seperti keeluarga tidak bisa bekerjasama, masalah bertambah buruk), maka klinik TIP mengembalikan masalah tersebut ke sekolah, dan sekolah akan menyerahkan kasus ke peradilan daerah.

 

Court Unified Truancy Suppression Program (CUTS, Arizona)

CUTS didisain untuk bekerja dengan remaja yang membolos melalui community-based intervention daripada merujuk mereka ke pengadilan kenakalan remaja. Ketika disadari ada seorang siswa yang sebaiknya mengikuti program ini, seorang petugas dari CUTS ditugaskan untuk ke sekolah. Seluruh orang tua murid dikirimi surat pemberitahuan yang sama, yang menginformasikan mereka tentang implementasi proram CUTS.

Apabila siswa sudah tiga kali absen tanpa alasan yang jelas, sekolah akan mengirimkan surat peringatan kepada orang tua untuk mengidentifikasikan sumber masalah dari munculnya masalah membolos. Jika pola ketidakhadiran siswa berlanjut setelah intervensi oleh sekolah, sekolah mengeluarkan surat panggilan. Surat tersebut berisikan tanggal dan tempat akan dilaksanakan pertemuan berikutnya 2 minggu setelah surat dikeluarkan.

Pertemuan tersebut akan dihadiri oleh petugas CUTS, personil dari sekolah (seperti konselor sekolah), siswa sendiri, dan orang tua siswa. Dari pertemuan tersebut, anggota keluarga akan diikutsertakan pada pelayanan-pelayanan seperti konseling, kelas-kelas pendikan, dan treatmen terhadap penyalahgunaan (tergantung kebutuhan). Dalam intervensi tersebut, anak akan ditugaskan untuk mengerjakan Hukuman/Penalti yang harus diselesaikan dalam jangka waktu 30 – 60 hari selama masa intervensi. Hukuman/Penalti didisain untuk membuat anak dan orang tua bertanggungjawab atas perilaku membolos yang dilakukan (hukuman bisa dalam bentuk jam kerja, menulis esai, atau masuk kelas seperti biasa). Apabila anak atau keluarga gagal dalam program ini, maka kasus akan dilempar ke pengadilan.

Keberhasilan program ini telah dibuktikan, yaitu pada tahun 2000 sebesar 74% siswa yang berpartisipasi dalam program ini mampu menyelesaikan hukuman mereka, dan 97% siswa telah secara rutin masuk sekolah setelah mengikuti program ini.

 

Fulton County Truancy Intervention Project

Beroperasi di Atlanta sejak 1991, TIP of Atlanta Bar Foundation melayani anak-anak yang sudah secara kronis absen dari sekolah. TIP ini menyediakan relawan yang menjadi pengacara bagi anak-anak yang sudah dikirim ke pengadilan remaja karena absen dari sekolah yang berlebihan. Jadi program ini lebih untuk mendampingi anak yang sudah akan menjalani peradilan dan apa yang dapat mereka lakukan setelah keluardari pengadilan atau menjalani hukuman.

 

Seventeenth Judicial District Truancy Reduction Project (SJDTTRP)

SJDTRP bekerja keras untuk menemukan tujuan dibalik pola dari perilaku membolos yang dilakukan siswa dan mengurangi keseluruhan jumlah surat pernyataan membolos dan mencoba untuk menggunakan pengukuran internal dan konseling individual untuk meningkatkan kehadiran di sekolah.

Pengadilan yang telah menerima surat pernyataan dari sekolah, kemudian merujuk kasus tersebut kepada Truancy Case Manager (TCM), yang akan memberikan pilihan pada keluarga untuk berpartisipasi pada proyek mengurangi perilaku membolos, atau jika keluarga menolah, kasus akan dikembalikan ke pengadilan.

Dan apabila keluarga memutuskan mau bekerjasama dengan TCM, TCM akan mewawancarai anak dan keluarga, dan merancang rencana Family Treatment, yang di dalamnya termasuk anggota keluarga, dinas sosial, dan pihak sekolah, yang dilaksanakan di sekolah anak tersebut. TCM akan mengawasi kasus ini selama kira-kira 12 minggu untuk meyakinkan bahwa perilaku membolos telah berkurang.

Apabila perilaku membolos dapat diredakan, TCM akan memberikan Memorandum of Accomplishment (memo telah berhasil menyelesaikan tugas) pada pihak sekolah dan orangtua, dan siswa akan diundang pada upacara pemberian penghargaan dan surat pernyataan yang telah dibuat ke pengadilan akan dibatalkan.

 

 

 

Entry Filed under: Review Jurnal. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Newest News

Arsip Berita

Categories

Recent Comments

Blog Lain

Blogroll

 

February 2007
M T W T F S S
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Blog Stats